Skip to main content
FeaturedNews

Melihat Normah Jalankan Standar Internasional, Kemanusiaan di Atas Segalanya

By October 7, 2022October 17th, 2022No Comments

CEO Normah Medical Specialist Centre Dr Au Yong Kien Hoe saat menjelaskan konsep RS Normah kepada Pontianak Post. foto Shando Safela

KUCHING- Normah Medical Specialist Centre (NMSC) merupakan salah satu Rumah Sakit (RS) kelas dunia, yang terletak di Kuching, Sarawak, Malaysia. Di sana kesembuhan pasien selalu menjadi yang utama. Dan yang membuat RS itu maju bukan dari peralatannya, melainkan SDM di dalamnya.

Beberapa kali Pontianak Post sempat berkunjung ke Normah Medical Specialist Centre, hal yang paling menarik perhatian adalah setiap pasien yang datang selalu disambut dengan baik. Bahkan dimulai ketika pasien turun dari kendaraan yang mengantar. Selalu ada satu orang dari pihak RS yang menemani, kemudian menanyakan tujuan si pasien.

Petugas tersebut adalah Patient Relation Assistant (PRA), yang selalu siap melayani pasien mulai dari pintu masuk, hingga benar-benar pulang meninggalkan RS. Tak hanya cepat dalam melayani, PRA juga sangat ramah. Tak akan ada satu pun pasien di sana yang kebingungan, atau bahkan sampai tidak tahu apa yang ditunggu.

Pelayanan pasien dengan bantuan PRA ini menjadi salah satu standar internasional yang diterapkan Normah, dan paling mudah dilihat praktiknya secara langsung. Itulah mengapa RS yang berdiri sejak 1988 itu, telah diakui akreditasi internasionalnya oleh Joint Commission International (JCI).

Mengapa pasien begitu spesial di sana? Pontianak Post mendapat jawabannya langsung dari CEO and Managing Director Normah Medical Specialist Centre Datuk Dr Au Yong Kien Hoe. Ia mengungkapkan bahwa yang paling utama dalam menjalankan pelayanan sebuah RS, seharusnya memang kepentingan pasien. Pihak RS tidak akan melihat hal-hal selain kepentingan pasien, karena setiap pasien yang datang pasti punya permasalahan.

“Apa itu permasalahan kesehatan, baik itu mental juga fisik. Artinya setiap yang datang ke RS adalah orang yang sedang menderita, jadi kita sebagai orang medis harus kembali ke fitrahnya,” ungkapnya.

Fitrah yang dimaksud dijelaskan dia, semisal untuk seorang dokter maka harus kembali pada hakikat mengapa ingin menjadi dokter. Begitu pula dengan tenaga kesehatan (nakes) lainnya. Karena tentu setiap orang yang ingin menjadi dokter, ketika masih menjalani pendidikan, mereka tidak pernah memikirkan uang atau materi. Tujuan utamanya pasti ingin mengobati dan menyembuhkan setiap orang yang sakit.

“Jadi tidak ada interst terhadap uang. Nah kadang ketika sudah bekerja di rumah sakit, nakes ini sudah kehilangan niat awalnya tadi. Kebanyakan mereka kehilangan niat awalnya, karena sudah bercampur dengan (memikirkan) uang,” ujarnya.

Maka dari itu penting untuk menjaga hakikat dari seorang nakes. Semua harus kembali pada niat awalnya yang ingin membantu, mengobati atau menyembuhkan orang. Rasa kemanusiaan selalu lebih penting dari apapun. “Kalaupun misalnya rumah sakit swasta yang memang mungkin (tujuannya) untuk profit, tetap tidak semestinya membuat rumah sakit menjadi tempat komersial untuk mendapatkan uang. Kalau pun iya, itu harus diletakkan pada nomor kedua ataupun ketiga,” ujarnya.

Karena tetap saja yang utama adalah bagaimana menyembuhkan pasien. Itulah sebabnya, di Normah Medical Specialist Centre, ketika ada pasien yang sedang dalam proses penyembuhan lalu kekurangan uang, tidak akan mungkin pasien tersebut disuruh pulang. Rumah sakit tetap akan menolong kesembuhan pasien tersebut semaksimal yang bisa dilakukan.

“Jadi kan tidak mungkin RS tidak punya dana sama sekali. Dan yang tidak mampu itukan tidak semua pasien, mungkin hanya ada beberapa. Orang yang mampu dia harus membayar penuh, dan orang yang tidak mampu yang betul-betul kekurangan uang ya kami bantu. Semacam subsidi silang begitu,” jelasnya.

Hal itu penting karena rumah sakit lanjut dia, tidak hanya mengukur kesehatan pasien dari fisik saja, tapi juga mental. Sebagai contoh, ketika ada pasien yang harus menjalani operasi, kemudian sampai rela menjual rumah untuk biaya pengobatan. Ketika si pasien sembuh, justru akan muncul masalah baru, karena pasien sudah tidak memiliki rumah untuk tempat tinggal.

“Jadi ada beban mental lagi, beban penderitaan. Nah di dalam sebuah rumah sakit tidak bisa begitu. Rumah sakit seharusnya tidak hanya bisa menyembuhkan fisik, tapi juga mental,” paparnya.

Ketika rumah sakit sudah bisa kembali pada hakikatnya, ia yakin bisa menjad contoh untuk seluruh rumah sakit yang ada. Itulah mengapa di Normah Medical Specialist Centre, nakes yang ada tidak boleh berhubungan dengan administrasi keuangan. Ketika menjalankan tugas mereka hanya fokus pada penyembuhan orang sakit, bukan hal-hal lain di luar itu.

“Jadi masalah keuangan itu, petugas ICU, perawat, dokter dan segala macam, tidak pernah tahu. Masalah keuangan hanya antara pihak keluarga dan pihak keuangan rumah sakit. Itulah sebabnya di Normah tidak ada kelas, tidak ada perbedaan dalam penggunaan obat,” paparnya.

Semua yang dijalankan di rumah sakit itu menurutnya memang sesuai dengan standar internasional. Apalagi ia sendiri merupakan lulusan dari Amerika Serikat. Dan konsep RS yang tidak boleh membedakan apapun, memang berasal dari sana. Termasuk perbedaan warga negara, karena yang paling utama dilihat adalah kemanusiaan. Setiap orang yang sakit, memiliki hak untuk sembuh dan itu harus dibantu oleh RS. “Karena nilai kemanusiaan itu sangat tinggi sekali,” ucapnya.

Dr Au Yong juga menjelaskan seperti apa peran Sumber Daya Manusia (SDM) kesehatan yang jauh lebih penting dari peralatan medis. Bahkan rumah sakit tercanggih di Amerika pun, menurutnya tidak akan bisa menjadi yang nomor satu di dunia, jika tidak memiliki SDM yang mumpuni. Rumah sakit bisa menjadi nomor satu karena memiliki ahli-ahli yang sangat hebat, baik dalam manajemen, maupun penanganan pasien. “Jadi ukuran hebatnya sebuah rumah sakit bukan dari alat yang dipunya. Alat hanya sebagai pembantu,” imbuhnya.

Ia menerangkan, peralatan medis hanya bisa membantu mendiagnosis penyakit seseorang sebesar lima sampai 20 persen saja. Sedangkan 80 persen penegakan diagnosis adalah dari wawancara atau perbincangan langsung antara dokter dan pasien. “Dari apa yang dikeluhkan pasien, apa yang dirasakan pasien yang disampaikan ke dokter, itu bisa membuat diagnosis 80 persen dari situ. Sedangkan kalau tidak ada tanya jawab, hanya disuruh menggunakan alat ini itu, itu hanya 20 persen saja,” paparnya.

Maka dari itu, seorang dokter tidak akan bisa membuat diagnosis yang tepat ketika tidak benar-benar berbincang dengan pasiennya. Dan hal itu tidak bisa dilakukan secara terburu-buru. Harus ada waktu yang cukup bagi dokter untuk menanyakan keluhan pasien, baru kemudian bisa mengambil kesimpulan diagnosis.

Selain telah mengikuti seluruh Standar Operasional Prosedur (SOP) sesuai dengan JCI. Normah lewat Dr Au Yong bahkan telah berhasil membuat SOP yang tidak ada di JCI, kemudian justru diakui oleh JCI untuk diterapkan menjadi standar internasional. Seperti diketahui, JCI sendiri merupakan lembaga akreditasi unggulan berskala internasional yang ditujukan untuk sektor pelayanan kesehatan di dunia.(bar)